
Karena tak pernah menyangka akan bisa berhadapan dengan seorang dewi secantik ini. Ia terdiam dan menatap aku dengan mata-kejoranya. Aku menyesal telah mengucapkannya. Ragu dan pelahan ia bertanya: “Siapa kau maksudkan dewi itu ?” “Kau,” desauku, juga ragu.
– Bumi Manusia
Annelies Mellema, sang bunga penutup abad dalam novel Bumi Manusia. Karakternya tidak secemerlang tokoh Minke yang selalu kritis terhadap feodalisme dan menjadikan ilmu sebagai sarana kebebasan. Juga tidak secemerlang tokoh Nyai Ontosoroh, yang berani melawan hukum kolonial untuk mendapatkan haknya sebagai seorang ibu. Annelies merupakan wanita yang lemah dan tak berdaya. Lemah, karena tak berdaya akan melawan masa lalu yang terus membayangi. Karakternya selalu dikaitkan dengan kecantikan bagai seorang dewi, yang mana kita tahu nantinya bahwa sang dewi juga merupakan seorang manusia biasa. Sang dewi yang sangat rapuh dan tidak sempurna. Sang dewi yang bercita-cita menjadi pribumi.
Serupa dengan pembaca wanita lainnya yang membaca novel Bumi Manusia, awalnya saya tidak menyukai karakter Annelies. Terlalu kontras dengan ibunya, Nyai Ontosoroh yang selalu berpegang teguh akan segala hal yang dia yakini. Apalagi ketika Annelies mulai sakit-sakitan, terbaring di ranjang sepanjang hari. Penyakit Annelies muncul karena ketidaksanggupan Annelies menghadapi masa depan. Tidak heran, karena untuk menyembuhkan luka masa lalu dia tak mampu, apalagi ditambah kecemasan akan masa depan yang timbul saat dia mulai merasa berbahagia. Segalanya tidak berjalan lancar bagi Annelies.
Saya mencoba menelusuri bagaimana Pramoedya Ananta Toer memperkenalkan kepada kita (pembaca) karakter Annelies. Kerapuhan Annelies itu, bagaimana awalnya, penyebabnya, hingga alasan tindakan-tindakannya itu. Annelies Mellema diceritakan tumbuh dari keluarga yang tidak sedang baik-baik saja. Ayahnya jarang berada di rumah, meninggalkan keluarganya untuk berpergian entah kemana. Sang ibu terpaksa sendiri mengurusi rumah dan perusahaan keluarga yang menjadi penompang ekonomi keluarga. Sang kakak, Robert Mellema tidak dapat diharapkan. Jangankan untuk membantu, dia sendiri memandang rendah ibunya yang memiliki label sebagai ‘pribumi’. Jadilah hanya Annelies dan sang ibu, yakni Nyai Ontosoroh yang berusaha menghidupi keluarga. Disini Pram memperlihatkan bahwa pada masa itu, wanitapun juga masih dapat tetap hidup tanpa perlu bergantung kepada lelaki.
Sikap ayah dan kakak lelakinya itu membuat Annelies menjadikan ibunya sebagai panutannya. Menurutnya tidak penting bahwa ibunya bukanlah seorang Eropa, karena ibunya yang pribumi itu lebih dapat diandalkan daripada keluarganya yang mempunyai darah Eropa. Annelies mulai berpikir bahwa menjadi pribumi lebih baik daripada menjadi Eropa. Puncak kebencian Annelies kepada Eropa muncul ketika kakaknya, Robert melakukan hal keji kepada dirinya. Annalies mulai memandang ayah dan kakaknya sebagai orang asing. Annelies tidak mendapatkan cinta dari dua orang lelaki yang menjadi bagian hidupnya dalam suatu keluarga. Annelies mulai riskan, baginya cinta hanya bisa didapatkan dari ibunya.
Pada keadaan tersebutlah kemudian Minke muncul di kehidupan Annelies. Minke memandangnya sebagai wanita tercantik di dunia, melebih ratu Belanda saat itu. Berbeda dari ayah dan kakaknya, Minke sangat mengagumi Annelies dengan cara yang membuat Annelies merasa dicintai. Perlakuan Minke tersebut membuat Annelies jatuh hati dan mulai membutuhkan Minke di hidupnya. Annelies merasakan cinta yang tidak didapatkannya dari kedua lelaki yang sangat berpengaruh bagi hidup Annelies sebelumnya. Pram kemudian memperlihatkan keintiman hubungan keduanya melalui alur yang jelas, bagaimana awalnya keduanya saling tertarik kemudian saling terpikat, saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi saling bergantung satu sama lain.
Segalanya terasa indah bagi Annelies, dia telah mendapatkan cinta dan mencoba melupakan masa lalunya dengan kehadiran sosok Minke. Namun sayang, baru sebentar merasakan kehidupan pernikahan, masalah baru muncul lagi. Setelah kematian ayahnya, hak asuh Annelies mulai dipertanyakan. Inilah yang menjadi babak puncak Bumi Manusia, ketika Nyai Ontosoroh dan Minke berusaha memperjuangkan Annelies untuk tetap dapat hidup bersama mereka. Lalu bagaimana dengan Annelies yang diperebutkan oleh Nyai ontosoroh dan Mrs. Mellema ? Annelies jatuh sakit.
Kenapa Annelies bisa jatuh sakit ? Bukankah dia telah mendapat cinta dari orang-orang yang sangat disayanginya yakni Nyai Ontosoroh dan suaminya, Minke ? Di sini Pram memperlihatkan bagaimana karakter Annalies memiliki kerapuhan yang luar biasa. Latar belakang Annelies yang diceritakan Pram dengan sangat baik membuat pembaca memahami sikap Annelies di masa kelamnya tersebut.
Annelies selama ini menjalani hidup dengan berat, tanpa kehadiran kakak dan ayahnya. Dia hanya punya seorang ibu untuk bertumpu. Annelies rajin membantu ibunya, namun tanpa peran kakak dan ayahnya dia memiliki mental anak-anak. Baginya orang yang disayanginya adalah boneka yang tidak boleh hilang jauh darinya. Sosok Minke hadir di waktu yang tepat dan memberikan segala kebahagiaan yang dibutuhkan selama ini oleh Annalies. Annalies sangat berbahagia bersama Minke, mereka bahkan menikah. Kehidupan pernikahan yang dia yakini akan berlangsung bahagia sepanjang hidupnya justru direnggut begitu saja oleh hukum Eropa.
Hak asuh Annelies dipertanyakan, hukum Eropa mencoba menjauhkannya dari kedua orang yang sangat dicintainya lebih dari apapun di dunia ini. Hal ini tentu membuat Annelies sangat terguncang. Apalagi dia telah membayangkan masa depan dan hidup yang indah bersama kedua orang yang dicintainya tersebut. Puncaknya ketika hukum Eropa memutuskan bahwa hak asuh Annelies diberikan kepada Mrs. Mellema. Itu berarti perkawinan Annelies dengan Minke dinyatakan tidak sah. Nyai Ontosoroh tidak diakui sebagai ibunya. Hukum Eropa yang memandang rendah pribumi menjadikan Annelies harus pergi ke negeri Belanda. Berpisah dengan Minke dan Nyai Ontosoroh.
Pram mempelihatkan kerapuhan Annalies sedang menghadapi khalayannya yang runtuh itu. Annelies diceritakan enggan untuk makan dan minum, bahkan ketika ditanyai dia hanya mengangguk saja. Benar-benar enggan untuk menjalani hari esok. Annelies merasa tidak ada alasan lagi baginya untuk hidup, tanpa kehadiran kedua orang yang dicintainya tersebut. Hingga adegan terakhir Annelies di novel Bumi Manusia adalah ketika Annelies pergi membawa koper cokelat tua. Koper yang dibawa Nyai Ontosoroh ketika dijual kepada Mr. Hellema. Koper tua, simbol kekalahan. Baik bagi Annelies ataupun bagi Nyai Ontosoroh saat itu.
Membicarakan novel Bumi manusia memang tidak ada habisnya. Baik mengenai alur, plot cerita ataupun karakteristik tokoh-tokohnya. Bagi saya Annelies menjadi tokoh yang menarik pada cerita masa kolonial. Apabila banyak orang mengagumi tokoh Minke maupun Nyai Ontosoroh, tokoh Annelies memiliki daya pikatnya tersendiri untuk menjadikan cerita ini menjadi menarik. Kehilangan Annelies menjadikan Minke semakin mengkritisi hukum-hukum Belanda dan mulai memperjuangkan hak-hak pribumi. Bagi saya Annelies adalah kunci. Annelies yang mempengaruhi sikap dan daya pikir Minke dan Nyai Ontosoroh.
Saya sangat kagum dengan penjabaran yang dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer yang menjadikan pembacanya memahami dan memaklumi setiap tindakan Annelies baik dari awal hingga akhir cerita. Meski singkat, melalui Bumi Manusia saya dapat melihat perjalanan hidup Annalies, memahami gerak-gerik tokohnya dan bersimpati kepadanya. Novel merupakan media yang tepat untuk menampilkan perjalanan kehidupan, terlebih lagi apabila itu adalah mahakarya penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Maka, perjalanan hidup Annelies mampu membekas diingatan pembacanya.