
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih
juga angan-angan dan selera
keisengan
(Dan Kematian Makin Akrab)
Ikhlas, indah, namun menggetarkan. Begitulah kesan yang saya ambil ketika membaca kumpulan sajak Dan Kematian Makin Akrab karya Subagio Sastrowardoyo. Kalimat-kalimat puisi menyadarkan kita bahwa kematian bukanlah hal yang jauh dari kita. Kita tahu bahwa tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Namun Subagio memvisualisasikan kematian dengan cara yang lebih merangkul dan mengajak kita untuk mengakrabinya.
Puas mendengar jawaban itu, si anak kembali bermain
Tali dan tidak menangis lagi. Ia tahu kini bahwa adik
Tidak berbeda dari kucing, jam, atau api, kalau mati
Subagio menawarkan cara pandang lain dalam mengatasi ketakutan akan kematian. Ada berbagai cara menikmati kematian yang dituliskan dalam puisi ini. Entah dengan bersyukur mati muda, menyamakan kematian dengan layang-layang yang putus, hingga mati dengan nasi di sela gigi. Ketika membaca puisi-puisinya tidak terasa kepedihan. Setiap kita menilik setiap kalimatnya, yang terasa hanyalah kesunyian, karena kematian yang sakral ditulis dengan kalimat-kalimat yang indah. Tulisan-tulisannya menyajikan ketegaran dan tidak perlu dihadapi dengan penuh ketakutan. Seperti dalam lirik lagu ‘putih’ karya Band Efek Rumah Kaca : karena kematian hanya perpindahan, karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian.