‘Lapar’ di Bulan Puasa Bersama Knut Hamsun

Ernest Hemingway, Herman Hesse, dan William Faulkner. Nama-nama penulis ternama yang mengaku terpengaruh oleh karya-karya Knut Hamsun. Siapakah Knut Hamsun dan bagaimana penulis-penulis tersebut dapat terpengaruh olehnya ? Knut Hamsun merupakan penulis yang memenangkan hadiah Nobel Kesusastraan. Knut Hamsun juga dianggap sebagai pelopor sastra modren yang mempengaruhi perkembangan sastra modren dunia, khususnya Eropa dan Amerika. Salah satu penulis terkenal Indonesia, Eka Kurniawan, menyebutkan novel Lapar Knut Hamsun-lah yang membuatnya ingin menjadi penulis. Banyaknya penulis ternama yang mengaguminya membuat saya ingin membaca salah satu novelnya, yakni Lapar atau sering dikenal dengan judul Hunger.

Ketika membaca novel ini saya sangat tertarik dengan cara Knut Hamsun bercerita, segala gerak-gerik diceritakan dengan sangat ringan seolah-olah pembaca tersebutlah yang menjadi tokoh ‘aku’. Perasaan kesepian, kelaparan, heningnya malam dan bahayanya jalanan bagi tokoh ‘aku’ benar-benar saya rasakan meskipun saya sedang duduk nyaman di rumah. Tokoh ‘aku’ ini benar-benar malang, membaca kisahnya membuat saya tidak pantas untuk lapar -di bulan puasa-. Dia lapar, dia menderita tetapi dia masih mempunyai pandangan positif menghadapi dunia. Walau dia selalu lelah untuk lapar, tetapi dia tidak pernah lelah untuk menulis. Baginya bukan makanan yang membuat dia hidup, tetapi menulis.

Tokoh ‘aku’ tetap akan menulis meskipun dia baru saja diusir dari tempat tinggalnya -karena tidak mampu mebayar uang sewa-, tetap menulis di bangku taman meskipun saat itu adalah tengah malam yang gelap dan cuaca sedang sangat dingin. Dia sangat gigih untuk menulis, disaat bersamaan itu jugalah dia bersemangat untuk hidup. Dia selalu percaya bahwa tulisannya akan diterima oleh editor, dan dia optimis akan dapat membeli banyak makanan dari uang tulisannya tersebut, meskipun naskahnya telah ditolak berkali-kali. Pembaca diajak untuk masuk ke dalam ruang batin tokoh ‘aku’ sehingga pembaca ikut berempati kepadanya. Kemalangan demi kemalangan terus datang menghampiri tokoh aku seolah tak berujung. Badannya kurus kering, begitu lemah dan tak berdaya. Pembaca akan merasa kasihan, tetapi disaat yang bersamaan pembaca akan kagum dengan tokoh ‘aku’ yang benar-benar untuk menjaga moralitasnya agar tidak mencuri dan merugikan orang lain meskipun bahaya kelaparan telah membuatnya serasa akan mati.

Dia merupakan tokoh yang sangat jujur dan sangat tidak ingin dikasihani oleh orang lain. Tokoh ‘aku’ juga sangat mudah terharu oleh kebaikan orang lain. Kerasnya hidup tidak mengubah dia menjadi sosok yang egois dan tak punya hati, sebaliknya, dia tidak segan membagikan sedikit makanan yang dia miliki untuk orang lain yang ia anggap memiliki nasib yang sama dengannya. Dia tak segan-segan memberikan kue kepada orang tua yang keparan, menyisihkan makanannya untuk seorang gadis cilik ataupun bersedekah untuk seorang nenek. Melalui tokoh ‘aku’ kita dapat melihat sosok penulis yang tidak mudah putus asa, walau seberat apapun hidup yang dijalaninya. Namun tetap seperti kenyataannya, ketidakpastian hidup akan membuat seseorang menyerah. Novel ini benar-benar memperlihatkan kepada kita pertarungan hidup mati di tengah kelaparan.

“ Semakin aku jauh dari situ, semakin gembira aku bahwa aku telah menang dalam percobaan berat itu. Kesadaran bahwa aku adalah seseorang yang jujur membuatku amat bangga, memenuhiku dengan suatu perasaan yang nikmat.”

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started