Trial By Media

Sebuah film dokumenter dari Netflix yang menceritakan tentang kasus-kasus besar yang terjadi di Amerika dan bagaimana pengaruh keikutsertaan media terhadap kasus-kasus besar tersebut. Ruang sidang diatur seperti sebuah studio televisi, menimbulkan opini dan reaksi publik bagi khalayak yang menontonnya. Tak jarang stigma maupun prasangka terus bermunculan seiring pemberitaan kasus-kasus besar yang dibahas dalam film dokumenter ini.

Episode 1 : Talk Show Murder

Menceritakan bagaimana pembunuhan bisa terjadi karena sebuah reality show. Acara reality yang menjadi perbincangan adalah The Jenny Jones Show yang mempunyai format mengundang tamu rahasia dan menceritakan segala kejadian yang berhubungan dengan tamu rahasia tersebut. Acara ini dianggap murahan bagi sebagian warga Amerika karena berupaya menyebarkan aib dan mempermalukan seseorang. Meskipun demikian, rating acara tv ini sangat tinggi hingga mengundang banyak pengiklan. Hingga pada satu episode Scott Amedure mengundang Jonathan Schmitz untuk masuk ke dalam acara ini. Jon datang ke acara tanpa mengetahui siapa yang mengundangnya. Acara berlangsung dengan lancar hingga suatu hari Jon menelpon polisi dan mengaku telah membunuh Scott. Kasus ini menggegerkan penduduk Amerika karena motif pembunuhan berkaitan dengan penampilan pelaku dan korban di The Jenny Jones Show.

Warga Amerika lebih banyak menyoroti acara televisi yang dianggap provokatif itu agar juga ikut bertanggung jawab atas kasus pembunuhan ini. Karena kasus ini dianggap tidak akan terjadi apabila tidak ada acara tv seperti The Jenny Jones Show. Acara ini dianggap tidak mempunyai simpati terhadap orang yang muncul dan dipermalukan dihadapan jutaan penonton televisi hanya demi rating. Di sisi lain media memanfaatkan perhatian tersebut dengan menayangkan sidang kasus perkara Jon. Melalui episode ini dapat dilihat bahwa media menjadikan ruang sidang sebagai sebuah studio televisi. Melalui sudut pandang televisi, perkara kasus ini juga memunculkan orang baik, penjahat, maupun kisah yang dapat dijual dan dipertontonkan kepada masyarakat. Kisah Jon dan Scott dijadikan sebuah berita. Media mengambil drama kehidupan nyata dan menaruhnya di depan kamera TV.

“Media ingin memanfaatkan semua yang mereka dapatkan. Mereka ingin memanfaatkan sensasionalisme persidangan. Mereka ingin menciptakan pengalaman lain di luar media. Begitulah bagaimana media bekerja.”

Episode 2 – Subway Vigilante

Episode ini membahas Bernhard Hugo Goetz yang menembaki empat pria kulit hitam di kereta bawah tanah. Banyak perkara yang dibahas pada kasus ini. Pertama, mengenai kepemilikan senjata. Dengan adanya kasus ini ,uncul gerakan-gerakan mendukung pelegalan senjata. Kedua, mengenai isu rasisme. Sebagian penduduk Amerika merasa bahwa Goetz menyerang empat pria tesebut karena mereka berkulit hitam. Mereka merasa Goetz tidak akan menembaki orang yang akan merampoknya apabila ia berkulit putih. Melalui kasus ini, isu rasisme akhirnya dibahas pada bingkai media massa. Ketiga, mengenai batas pembelaan diri. Goetz mengaku menembaki keempat orang tersebut karena merasa dirinya terancam dan merasa keempat orang tersebut akan merampok dirinya. Oleh karena itu dia berupaya untuk melindungi diri. Namun pernyataan Goetz dinilai tidak masuk akal karena keempat korban tidak dapat terbukti merampok dirinya dan dengan senjata yang ada ditangannya Goetz bisa saja mengancam keempat orang tersebut, tanpa harus menembaknya satu persatu. Namun banyak orang yang mendukung aksi Goetz tersebut dan menyebutnya ‘hakim kereta bawah tanah’. Orang-orang yang mendukung tindakan Goetz ini menyebut dirinya Guardian Angel. Menurut mereka ketika negara tidak mampu memberi rasa aman kepada warganya, maka hak bagi setiap warga untuk membawa senjata dan melindungi diri.

Kasus ini memunculkan banyak kelompok, baik kelompok yang pro maupun kontra sama-sama turun ke jalan. Kasus ingin sangat terkenal hingga ke dunia internasional. Di satu pihak, ia dianggap sebagai penjahat yang rasis. Di pihak lain, ia dianggap sebagai pahlawan. Media berupaya agar berita mereka laku pada dua sisi pihak ini. Namun opini publik tetap tercipta karena perhatian media yang amat besar pada kasus ini. Pada permulaan kasus ini muncul, Goetz dianggap sebagai pahlawan meskipun ia tidak pernah berkomentar apapun kepada media. Kasus terus berlanjut dan terus menuai pro kontra hingga Goetz akhirnya berbicara. Dia berniat untuk meluruskan perkara dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Namun lama kelamaan dia menyadari bahwa semakin banyak ia berkomentar, semakin banyak media menyerangnya. Begitulah bagaimana sudut pandang media dapat menggiring opini dan mengubah seorang untuk menjadi pahlawan ataupun penjahat.

“Mereka (media) tak mau menjadikannya pahlawan lagi. Mereka meninggikannya dan mereka kini siap menjatuhkannya.”

Episode 3 : 41 Shots

Kasus ini berawal dari empat orang polisi yang menembaki pria tidak bersenjata dan tidak melakukan kejahatan. Empat polisi tersebut berkulit putih, sedangkan korban adalah seorang imigran Afrika yang datang ke Amerika untuk masuk perguruan tinggi. Kasus ini semakin menjadi sorotan karena keempat polisi tesebut menembak korban dengan 41 peluru, hal yang sangat janggal karena korban bahkan tdiak memegang senjata. Korban bernama Amadou yang masih berumur 22 tahun. Ibunya kemudian berangkat dari Afrika ke Amerika untuk menuntut keadilan atas kematian putranya tersebut. Ibunya berbicara di depan publik dan semakin banyak pula gerakan-gerakan yang ikut menuntut keadilan untuk Amadou, terlebih lagi dari kelompok kulit hitam. Perhatian publik terhadap kasus ini sangat besar, sehingga media terus menerus meliputnya. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan para hakim juri. Kasus ini semakin kontroversial lagi karena tempat persidangan akan dipindahkan.

Sebagian masyarakat Amerika berpikir bahwa perubahan tempat sidang dari Los Angeles ke Kabupaten Ventura yang lebih konservatif berarti akan mempunyai calon juri yang sangat berbeda. Masyarakat khawatir dengan pemindahan tempat, terlebih lagi merupakan wilayah yang didominasi oleh kulit putih akan menghasilkan putusan yang mengecewakan. Pada akhirnya kasus ini menunjukkan bahwa meskipun keadilan itu sangat sulit untuk diperoleh, usaha untuk berbicara dan menuntut keadilan akan membawa hasilnya sendiri karena merupakan bentuk dari perjuangan. Di akhir episode kita dapat menemukan fakta bahwa ibu Amadou berhasil mendirikan yayasan yang memberikan layanan masyarakat dan beasiswa untuk siswa yang ingin masuk perguruan tinggi. Dia terus berbicara dan terus meneggakkan keadilan.  

“Orang harus punya cara untuk menjadi bagian dari pemberitaan, jika ia ingin melakukan perubahan.”

Episode 4 : King Richard

Kasus pada episode ini menyoroti Richard Scrushy, merupakan mantan CEO Perusahaan HealthSouth, sebuah perusahaan layanan kesehatan. Richard membangun usahanya itu benar-benar dari nol hingga ia kemudian dapat menjadi salah satu pria tersukses di Amerika. Richard mempunyai banyak gedung, 30 mobil mewah dan juga mempunyai patung dirinya sendiri yang berdiri di ruang publik. Richard Crushy kemudian didakwa atas penipuan, pencucian uang dan pelanggaran lainnya. Dia dituduh melakukan pennipuan sebanayk milyaran dolar dengan menggelapkan uang masyarakat yang berinvestasi di HeathSouth. Kasus ini dianggap sebagai kasus penipuan terbesar dalam sejarah di Amerika. Richard yang awalnya dianggap sebagai pemimpin yang karismatik serta motivator ulung, berubah menjadi pria yang paling dibenci di Birmingham. Richard dalam wawancaranya menyebutkan bahwa media terus menerus menyerangnya dan menggambarkannya sebagai sosok penjahat. Richard merasa tidak bersalah dan terus menerus melakukan pembelaan atas dirinya ketika media dari manapun mewawancarainya. Richard juga membeli sebuah acara televisi untuk membentuk opini publik. Ia tahu bahwa masyarakat kulit putih membenci dirinya, oleh karena itu dia mencoba mendekati kelompok masyarakat kulit hitam dengan menjadi pembawa acara khutbah di sebuah acara televisi.

 Di Amerika, opini publik sangat penting untuk mempengaruhi pendapat para juri. Richard kemudian menjelajahi Birmingham, dari satu gereja ke gereja lainnya untuk menceritakan kisahnya. Dalam kasus ini, sebenarnya Richard sangatlah dipojokkan karena lima orang CFO telah mengaku bersalah atas kasus ini. Lima orang tersebut menyatakan bahwa Richard-lah yang menjadi dalangnya. Namun dengan pendekatan tidak terduga yang dilakukan Richard, kasus ini menjadi sebuah pertarungan yang besar untuk memutuskan apakah Richard bersalah atau tidak. Melalui episode ini penonton dapat melihat bahwa ruang sidang bagaikan satu panggung set film dengan banyak episode dan babak di dalamnya. Pembunuhan karakter, pembahasan atas hal-hal yang tidak berkaitan dengan kasus menjadi hal yang lumrah untuk memenangkan babak yang ada pada ruang sidang.

“Bahwa ketika kau melihat hukum, biasanya 90% persen hukum melawanmu. Yang penting bukan soal hukum, ini soal bercerita.

Episode 5 – Big Dan Tavern

Episode ini menggambarkan kontroversi menyiarkan persidangan di televisi. Terlebih lagi sidang yang dimaksud berkaitan dengan pemerkosaan. Muncul sejumlah pertanyaan-pertanyaan, seperti bisakah keadilan ditegakkan melalui penyiaran televisi ? Apakah hal itu dapat membantu ataukah justru merusak keadilan ? Kasus pemerkosaan ini terjadi di New Bedford, sebuah kota kecil dengan mayoritas penduduk merupakan imigran Portugis. Pemerkosaan terjadi di sebuah bar oleh sekelompok orang dan seluruh bar melihat pemerkosaan tersebut tanpa berupaya menghentikan, menolong ataupun menelpon polisi. Wanita yang menjadi korban adalah wanita muda yang masih berusia 22 tahun. Persidangan ditayangkan secara langsung di televisi sehingga penonton dapat menjadi pengamat yang mempunyai informasi yang sama dengan juri. Karena kasusnya yang heboh dan disiarkan langsung di televisi, banyak opini publik yang bermunculan. Pertama, ratusan wanita berkumpul dan menyuarakan suaranya tentang antai pemerkosaan dan penganiayaan terhadap perempuan. Ratusan wanita tersebut menyatakan bahwa tidak sedikit wanita yang mengalami pelecehan, namun tidak berani mengungkapkannya kepada publik. Di sisi lain tidak sedikit orang yang justru menuding korban tersebut. Orang-orang menanyakan, apa yang dilakukan korban di malam hari sendirian, pakaian apa yang dikenakannya, apakah dia yang justru memprovokasi pria-pria yang ada di bar tersebut.

Hal ini terbukti ketika persidangan, alih-alih menuding pelaku, korbanlah yang seperti sedang diadili. Di sisi lain memberitakan kasus ini dengan menyudutkan para imigran Portugal yang menjadi mayoritas penduduk New Bedford. Terlebih lagi pelaku yang digugat kebanyakan merupakan imigran Portugis. Masyarakat menolak penyudutan oleh media tersebut, dan menyatakan pendapatnya bahwa korban juga bersalah karena memprovokasi pelaku. Banyak spekulasi-spekulasi yang muncul, tanpa tau apakah korban benar-benar melakukan provokasi atau tidak. Selain menimbulkan banyak opini dan reaksi publik, penyiaran sidang secara langsung membuat para korban pemerkosaan semakin takut untuk melapor karena melihat hal yang dialami korban dalam kasus ini, disalahkan dan dituding tak berdasar atas kasus pemerkosaan yang menimpa dirinya.

“Setiap hari, selama persidangan, orang-orang membicarakan apa yang mereka lihat di televisi, dan apa yang mereka dengar di radio. Kemudian mereka akan menyuarakan pendapat mereka tentang kasus ini. Opini kuat disuarakan tentang apa yang benar dan salah.”

Episode 6 – Blago

Kasus ini sangat memperlihatkan bagaimana media dapat mempengaruhi persidangan. Tokoh sentral pada kasus ini adalah Rod Blagojevich, seorang gubernur Ilinois, Chicago, Amerika Serikat. Rod bukan berasal dari keluarga yang kaya, sejak SMA dia telah bekerja di lingkungan buruh. Oleh sebab itu pada saat kampanyenya ia berkata ingin mematahkan kekuasaan elit yang ada di kota kelahirannya tersebut. Karir politiknya semakin meningkat sejak dia menikahi Patricia Mell, putri dari Richard F. Mell. Richard sendiri dianggap sebagai mesin politik Chicago karena mempunyai pengaruh politik yang sangat luas. Oleh sebab itu Rod dikenal sebagai menantu Richard. Setelah Rod sukses berkarir di dunia politik, terdapat perselisihan internal keluarga antara Rod dan Richard. Perselisihan ini yang membuat Rod belajar bahwa dukungan dana dapat membantu melancarkan karir politiknya tanpa bantuan Richard. Rod tersandung kasus setelah teleponnya disadap oleh FBI. Dalam rekaman tersebut, Rod dianggap mencoba memberikan kursi senat yang kosong setelah Presiden Obama dilantik menjadi presiden. Rod dianggap melelang kursi kosong tersebut kepada pembeli tertinggi untuk melancarkan karir politiknya.

Persidangan berlangsung selama dua tahun. Selama dua tahun tersebut juga Rod tampil di berbagai acara televisi, menjawab semua pertanyaan wartawan, menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Sebelum tersandung kasus, Rod dianggap sebagai gubernur yang supel, ramah dan baik hati. Ia ingin mempertahankan citranya tersebut untuk mempengaruhi opini publik. Strategi media prasidangnya itu tidak semulus yang ia harapkan, bahkan ia dianggap menjadi bahan ejekan secara terang-terangan oleh presenter televisi. Strategi medianya justru membawa dia kepada hukuman yang berat, lebih berat daripada apa yang harus diterimanya. Namun di sisi lain Patti menggunakan strategi media tersebut untuk membantu meringankan hukuman suaminya. Begitulah bagaimana media bekerja di sisi hitam dan putih hidup seseorang.

“Berurusan dengan pers bagai pisau bermata dua”

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started