Anak Dipangku, Kemenakan Dibimbing

Belanda mati karena pangkat. Cina mati karena uang. Arab mati karena agama. Tetapi Melayu mati karena adat. Kalau Belanda berbenteng besi, Melayu berbenteng adat.

Anak dan Kemenakan merupakan sebuah novel terbitan Balai Pustaka yang menyoroti peran dan hubungan antara kamanakan (kemenakan) dengan mamak (paman), serta hubungan antara ayah-ibu dengan anak. Adat Minangkabau mempunyai tradisi bahwa “Anak dipangku, Kamanakan dibimbing”, yang berarti bahwa selain harus membesarkan anak, kemenakan juga menjadi tanggung jawab dari seorang mamak. Saudara laki-laki dari pihak ibu berkewajiban untuk membesarkan kemenakannya, membimbingnya, menyekolahkan, hingga juga ikut membayar biaya pernikahan si kemenakan. Novel ini turut memberikan kritik sosial terhadap adat tersebut, karena pada kenyataannya, orang-orang dewasa lebih memilih untuk membimbing kemenakannya, hingga mengabaikan anak kandungnya sendiri.

Cerita pada novel ini bermuara pada keempat sahabat, yakni Mr. Yatim, Puti Bidasari, Sitti Nurmala dan dr. Aziz. Keempat sekawan ini telah saling mengenal sejak kecil dan terkenal dengan rupa mereka yang rupawan. Mr. Yatim yang baru saja menyelesaikan studinya di negeri Belanda Kembali pulang dan berniat untuk menikahi Puti Bidasari, yang selama ini banyak orang menyangka bahwa mereka adalah kakakk beradik. Padahal sebenarnya Puti Bidasari adalah kemenakan dari Sutan Alamsah -ayah Yatim- yang dirawat sedari kecil hingga disekolahkan hingga MUA. Tidak hanya Yatim dan Putri Bidasari, Sitti Nurmala dan dr. Aziz juga saling menyimpan perasaan satu sama lain. Kedua pasangan ini saling bersuka cita karena saling mendapat kabar baik karena akan sama-sama menikah, namun kemudian terjadi perkara lain.

Ayah Sitti Nurmala, Baginda Mais sangat menginginkan putrinya menikahi Mr. Yatim yang dianggap sebagai putra terbaik di Minangkabau saat itu, karena menjadi satu-satunya anak muda yang belajar hingga ke Belanda. Bagi Baginda Mais, putrinya yang cantik jelita itu harus disandingkan dengan orang hebat seperti Mr. Yatim. Ketika mendengar Mr. Yatim akan menikahi Puti Bidasari, sangat kecewalah Baginda Mais. Terlebih lagi dia telah menghabiskan banyak uang untuk penyambutan kepulangan Mr. Yatim agar mendapatkan hati calon menantunya itu. Oleh karenanya, Baginda Mais mencoba membujuk ibu Puti Bidasari agar menikah dengan lelaki lain.

Tak disangka, ternyata ibu Puti Bidasari sangat menentang pernikahan antara Mr. Yatim dengan Puti Bidasari. Selain karena ia tidak mengetahui rencana tersebut dari awal, ternyata ibu Puti Bidasari sangat tidak menyukai Mr. Yatim. Baginda Mais yang mengetahui hal tersebut sangat puas, karena kesempatan putrinya untuk menikah dengan Mr. Yatim semakin terbuka lebar. Meskipun heran dengan sikap ibu Puti Bidasari, Mr. Yatim mengajukan diri untuk mencarikan jodoh untuk Puti Bidasari. Calon tersebut adalah Sutan Malik, anak dari bangsawan di Kota Padang. Ibu Puti Bidasari menyetujui hal tersebut, karena menurutnya anak dari bangsawan harus menikah dengan bangsawan pula. Padahal meskipun bangsawan, Sutan Malik terkenal dengan sifatnya yang buruk seperti suka berjudi dan menikahi banyak perempuan.

Serupa dengan Sitti Nurbaya Marah Rusli sangat menentang keras budaya lelaki Minang yang sering menikah dan mempunyai banyak anak yang bahkan tidak dikenalinya. Banyak lelaki Minang yang menikah berkali-kali karena tidak memiliki tanggung jawab terhadap anaknya. Toh, yang akan membesarkan dan menyekolahkan anak tersebut adalah mamaknya, yakni saudara laki-laki dari istrinya tersebut. Diceritakan pada saat itu terdapat kelompok muda dan kelompok tua. Kelompok tua merupakan orang-orang tua yang sangat menyunjung tinggi kemurnian adat. Sedangkan kelompok muda merupakan orang-orang muda yang dianggap lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman, sehingga telah meninggalkan adat yang dianggap kuno dan tidak dapat berlaku lagi. Hal ini dinampakkan oleh perbedaan karakter antara adik-kakak yakni Sutan Alamsah dan Ibu dari Puti Bidasari. Marah Rusli juga mengkritik pemakaian adat yang tidak sesuai dengan zamannya, yang membuat kaum muda lebih banyak merantau meninggalkan kampung halaman dibandingkan membangun tempat kelahirannya sendiri. Melalui novel ini pembaca diajak untuk lebih mengkaji adat ataupun peraturan yang berlaku, tidka menerima begitu saja karena bisa saja peraturan tersebutlah yang akan lebih menyulitkan sendi- sendi kehidupan lainnya.

Alangkah bengis kebangsawanan itu! Alangkah kejam adat pusaka lama kota Padang ini! Tiada menenggang hati orang, tiada mengindahkan perasaan jiwa. Barang siapa tiada menurut aturannya, tiada sesuai dengan adat istiadatnya, tiadalah dapat diterimanya, walaupun anak kandungnya sendiri sekalipun. Belanda berbenteng besi, Melayu berbenteng adat, kata pepatahnya. Memang benteng yang kuat, adatnya itu. Tak dapat dimasuki paham lain, aturan asing. Tetapi pula benteng yang tiada menaruh iba kasihan, rasa periksa, timbang-menimbang.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started