Rekomendasi Film yang Bikin Kita Mengenal Sejarah Korea

  1. A Taxi Driver (2017)

Peristiwa Gwangju Uprising merupakan salah satu sejarah kelam yang ada di korea. Namun insan perfilman Korea berani mengangkat peristiwa kelam itu dalam bentuk sebuah film, seakan mengingatkan untuk tidak melupakan sejarah yang ada pada negaranya. Peristiwa ini terjadi pasca meninggalnya Presiden Park Chung Hee, presiden yang telah memerintah selama 18 tahun. Presiden tersebut tidak meninggal begitu saja, melainkan dibunuh. Hal ini menyebabkan situsasi politik dan sosial menjadi tidak stabil. Hingga pada akhirnya Chun Doo Hyun diangkat menjadi presiden yang baru, namun rakyat banyak menolaknya. Penolakan tersebut menyebabkan Chun Doo Hyun banyak menggunakan militer dalam menghadapi pihak yang bertentangan. Pada awalnya mahasiswa di kota Gwangju keras memprotes pemerintahan Chun. Namun karena serang militer yang semakin agreasif, maka hampir seluruh masyarakat juga ikut melakukan pemberontakan. Hal ini mengakibatkan ratusan korban jiwa dalam peristiwa ini.

Continue reading “Rekomendasi Film yang Bikin Kita Mengenal Sejarah Korea”

Persoalan Pernikahan Antar Bangsa dalam Novel ‘Salah Asuhan’

Awal abad ke-20 di Indonesia menjadi masa dimana feodalisme masih terus berlangsung bersamaan dengan masuknya era modren ala barat yang dibawa oleh bangsa Belanda. Hanafi menjadi salah satu dari sedikitnya orang pribumi yang dapat bersekolah menyaksikan era modren tersebut. Sejak kecil, Hanafi telah dikirim oleh ibunya ke Betawi untuk mengecap pendidikan ala barat. Ibunya merasa bahwa Hanafi harus maju pendidikannya dibandingkan orang – orang di kampungnya yang ada di Solok. Lingkungan sekolahnya menjadikan Hanafi telah terbiasa bergaul dan hidup dengan budaya barat.  

Continue reading “Persoalan Pernikahan Antar Bangsa dalam Novel ‘Salah Asuhan’”

Tiga Film Jim Carrey yang Sarat Akan Makna Kehidupan

  1. The Truman Show (1998)

Film ini menceritakan Truman Burbank (Jim Carrey) yang mempunyai keseharian seperti orang biasa ; makan, berkeluarga, pergi bekerja dan sebagainya. Lambat laun Truman merasa kehidupannya yang normal tersebut sangat tidak wajar. Ternyata kehidupan Truman merupakan settingan belaka yang dikemas dalam sebuah program reality show yang berjudul “The Truman Show”. Sejak dalam kandungan, Truman telah diadopsi untuk menjadi bintang reality show. Penonton telah menyaksikan kehidupan Truman mulai dari dia dilahirkan, mulai masuk sekolah, bekerja maupun menikah. Orang-orang disekitar Truman merupakan aktor belaka, baik ibu, istri maupun sahabatnya. Bahkan kota tempat tinggal Truman merupakan sebuah studio raksasa yang dirancang sedemikian rupa ; memiliki danau buatan, laut buatan hingga matahari buatan. Acara TV ini telah bertahun-tahun diputar selama 24 jam dan menjadi tontonan favorit banyak orang. Tidak heran muncul banyak pengiklan karena ratingnya yang sangat tinggi sehingga memberikan banyak keuntungan bagi stasiun televisi. Namun Truman tidak mengetahui hal tersebut. Karena 5000 kamera disembunyikan dalam setiap spot untuk merekam pergerakan Truman. Hingga saat usinya yang ke-30 tahun Truman merasakan berbagai kejadian aneh menimpa hidupnya yang damai-damai saja itu. Dia mulai merasa hidupnya itu telah diatur. Alur film ini menceritakan bagaimana Truman mencari tahu rahasia kehidupannya yang sebenarnya.

Continue reading “Tiga Film Jim Carrey yang Sarat Akan Makna Kehidupan”

Menapaki ‘Jejak Langkah’ Minke, Tokoh Intrepetasi Bapak Pers Nasional

Upaya Minke untuk mengenali bangsanya sendiri membuat Minke menyadari bahwa bangsanya membutuhkan wadah untuk saling bertukar informasi, bertukar pikiran dan menyatakan pendapat. Pasalnya, media massa yang selama ini ia agung-agungkan karena mampu menyebarluaskan ilmu pengetahuan itu memiliki ekonomi politik media yang hanya menguntungkan pihak kolonial. Masyarakat dibiarkan terbelenggu dalam kebodohan, kegelisahan yang ada di dalam masyarakat seperti buruh tani, pedagang dan sebagainya dibiarkan begitu saja agar perusahaan-perusahaan milik bangsawan kolonial itu tidak merugi. Oleh karena itu sebagai permulaan Minke bertekad untuk mendirikan organisasi.

Nama organisasi tersebut adalah Syarikat Prijaji. Organisasi ini didirikan pada tahun 1906, dua tahun terlebih dahulu berdiri dibandingkan Boedi Oetomo. Nama tersebut merupakan buah pikiran antara Minke dengan Thamrin Mohammad Thabrie. Kata ‘prijaji’ dilandaskan berdasarkan keadaan masyarakat saat itu, dimana kaum priyayilah yang banyak mengecap ilmu pengetahuan. Thamrin kemudian menjadi ketua dan Minke menjadi sekretaris. Sayangnya organisasi ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Kemudian organisasi ini berubah nama menjadi Syarikat Dagang Islamiah (SDI) yang berlandaskan bahwa agama dan daganglah yang menyatukan mereka. SDI kemudian semakin besar dan banyak mendirikan cabang di luar pulau Jawa. Ini juga merupakan bentuk kritik kepada organisasi Boedi Oetomo yang dianggap mengkhususkan diri untuk orang Jawa. Menurut Minke, kriteria itu tidak jelas maksudnya dan justru mengkotak-kotakkan bangsa yang ada di Hindia. Menurut Minke Hindia merupakan suatu kesatuan, tidak perlu dikotak-kotakkan. Menurut Pram selaku penulis, Boedi Oetomo merupakan organisasi kesukuan dan tidak patut menjadi cermin munculnya kebangkitan nasional. Seharusnya Syarikat Priyayi sebagai organisasi modren pertama-lah yang dianggap sebagai pemicu kebangkitan nasional.

Continue reading “Menapaki ‘Jejak Langkah’ Minke, Tokoh Intrepetasi Bapak Pers Nasional”

Rekomendasi Film Adaptasi dari Novel Klasik

  1. Pride and Prejudice (2005)

Film dengan latar waktu Inggris masa victorian ini merupakan adaptasi dari novel karya Jane Austen dengan judul yang sama. Film ini menceritakan keluarga Mr. Bennet yang mempunyai 5 orang putri yang masih muda dan belum menikah. Banyaknya anak perempuan ini memusingkan Mrs. Bennet yang sangat ingin agar putri-putrinya cepat menikah untuk ‘melegakan’ hatinya. Putri-putri tersebut adalah Jane, Elizabeth, Mary, Katty dan Lidya. Pada suatu ketika muncul keluarga Bingley yang membeli kastil di wilayah yang sama dengan keluarga Mr. Bennet. Mengetahui adanya penghuni kastil baru yang juga masih muda, Mrs. Bennet berupaya menjodohkan putrinya dengan Mr. Bingley. Beruntung, Mr. Bingley tertarik dengan Jane, si kakak tertua yang paling anggun dan cantik. Namun hubungan mereka berdua tidak disukai oleh Mr. Darcy, teman Mr. Bingley yang menganggap hubungan mereka hanya hubungan yang menguntungkan salah satu pihak. Oleh karena itu Elizabeth membenci Mr. Darcy yang tidak hanya berupaya merusak kebahagian kakaknya, tetapi juga mempunyai sikap yang angkuh ketika bersama dirinya.

Continue reading “Rekomendasi Film Adaptasi dari Novel Klasik”

“Perempuan di Titik Nol” : Ketidakberdayaan Kaum Hawa Menjadi Si Nomor Dua

Novel ini merupakan novel yang banyak diminati oleh para pembaca di aplikasi Ipusnas. Telah berkali-kali saya mencoba untuk mengakses buku ini, sayang, saya juga harus masuk daftar tunggu berkali-kali. Untuk bisa meminjam buku ini setidaknya kita harus men-cek stok bukunya setiap sejam sekali. Begitulah tingginya antusiasme pembaca pada buku yang sarat dengan feminisme ini.

Continue reading ““Perempuan di Titik Nol” : Ketidakberdayaan Kaum Hawa Menjadi Si Nomor Dua”

‘Lapar’ di Bulan Puasa Bersama Knut Hamsun

Ernest Hemingway, Herman Hesse, dan William Faulkner. Nama-nama penulis ternama yang mengaku terpengaruh oleh karya-karya Knut Hamsun. Siapakah Knut Hamsun dan bagaimana penulis-penulis tersebut dapat terpengaruh olehnya ? Knut Hamsun merupakan penulis yang memenangkan hadiah Nobel Kesusastraan. Knut Hamsun juga dianggap sebagai pelopor sastra modren yang mempengaruhi perkembangan sastra modren dunia, khususnya Eropa dan Amerika. Salah satu penulis terkenal Indonesia, Eka Kurniawan, menyebutkan novel Lapar Knut Hamsun-lah yang membuatnya ingin menjadi penulis. Banyaknya penulis ternama yang mengaguminya membuat saya ingin membaca salah satu novelnya, yakni Lapar atau sering dikenal dengan judul Hunger.

Continue reading “‘Lapar’ di Bulan Puasa Bersama Knut Hamsun”

Anak Semua Bangsa, Upaya Mengenali Bangsa Sendiri

Berbeda dengan buku sebelumnya (Bumi Manusia), pada buku kedua pada Tetralogi Buru ini Minke yang telah dikecewakan dengan bangsa Belanda yang dianggap sebagai bangsa eropa terpelajar, mulai mencoba untuk turun lansung ke lapangan melihat kehidupan bangsanya sendiri. Hal ini diawali dengan tuduhan Jean Marais, sahabat Minke yang menganggap Minke tidak dapat mengenal bangsanya sendiri karena berpikir, menulis, dan memiliki pandangan seperti bangsa Eropa.

“Kau tak mengenal bangsa mu sendiri,” ucap Jean Marais.

Continue reading “Anak Semua Bangsa, Upaya Mengenali Bangsa Sendiri”
Design a site like this with WordPress.com
Get started