Tidak peduli telah berbagai macam produk budaya populer muncul setiap harinya, dari satu generasi ke generasi lain, namun novel Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) nampaknya tidak akan kalah dan akan terus abadi di tengah masyarakat Indonesia. Meskipun novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1920, tokoh fiktif Sitti Nurbaya tetap melekat bagi berbagai kalangan. Novel ini demikian besarnya hingga Pemerintah Sumatera Barat membangun jembatan wisata yang iconic disebut dengan Jembatan Siti Nurbaya serta Makam Siti Nurbaya di Gunung Padang.
Ngomong-ngomong tentang Sumatera Barat, novel ini memang mempunyai latar tempat di Kota Padang. Sangat mengasyikkan bagi saya (sebagai orang yang sejak lahir telah dibesarkan di Padang), ketika berbagai kawasan di Kota Padang disebutkan satu per satu dalam cerita. Seperti Gang Kampung Jawa Dalam (sekarang menjadi kawasan Pasar Raya), daerah Olo (tempat ibu saya dibesarkan), daerah Sawahan, hulu Limau Manis, kawasan Tabing, dan banyak lainnya. Mungkin ini pertama kalinya bagi saya membaca novel yang benar-benar menyebutkan berbagai lokasi di Kota Padang, sambil membayangkan rupa kota kelahiran saya itu ketika awal abad 20. Tidak lupa juga kawasan jembatan Siti Nurbaya saat ini, yakni Batang Harau dan juga Gunung Padang juga akan terus melekat ketika membaca novel ini. Bahkan saya pun mulai melihat Gunung Padang dengan pandangan yang berbeda. Meskipun fiktif, namun kisah kasih tak sampai antara Sitti Nurbaya dan Samsulbahri akan terus melekat ketika memandangi Gunung Padang tersebut. Dua tokoh yang disebut dengan Romeo dan Juliet-nya Indonesia.
Continue reading “Novel Sitti Nurbaya, Berbicara Emansipasi Ditengah Kekakuan Tradisi”