Novel Perburuan : Impian Kemerdekaan Menjelang Kekalahan Jepang

Ada tiga hal yang mendasari saya untuk membaca novel yang membuat Pramoedya Ananta Toer merasa diakui jadi penulis ini. Pertama, novelnya diadaptasi dalam bentuk film. Sehingga, saya berniat untuk terlebih dahulu membaca novelnya sebelum kemudian menonton filmya (sekarang saya sudah menonton filmnya, tapi sayangnya tidak terlalu bagus). Kedua, Goenawan Mohammad berkata bahwa novel Perburuan ini lebih bagus dibandingkan Bumi Manusia (tentu saja ini membuat saya semakin tertarik !).

“Bumi Manusia itu bagus, tapi tidak luar biasa. Sejarahnya hebat. Buku Pram yang bagus menurut saya itu ya, Bukan Pasar Malam. Atau Perburuan, tentang zaman dulu,” ujar GM dalam saluran Youtube Asumsi.

Continue reading “Novel Perburuan : Impian Kemerdekaan Menjelang Kekalahan Jepang”

Dan Kematian Makin Akrab

Kematian hanya selaput

gagasan yang gampang diseberangi

Tak ada yang hilang dalam

perpisahan, semua

pulih

juga angan-angan dan selera

keisengan

(Dan Kematian Makin Akrab)

Ikhlas, indah, namun menggetarkan. Begitulah kesan yang saya ambil ketika membaca kumpulan sajak Dan Kematian Makin Akrab karya Subagio Sastrowardoyo. Kalimat-kalimat puisi menyadarkan kita bahwa kematian bukanlah hal yang jauh dari kita. Kita tahu bahwa tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Namun Subagio memvisualisasikan kematian dengan cara yang lebih merangkul dan mengajak kita untuk mengakrabinya.

Continue reading “Dan Kematian Makin Akrab”

L’Etranger (Orang Asing) Karya Albert Camus : Upaya Memahami Absurditas Kehidupan

Hidup tak layak dijalani (la vie ne vaut pas la peine d’être vécue). Begitulah cara Albert Camus mengajak pembaca untuk mempertanyakan, apakah layak atau tidak hidup itu dijalani, kalau iya, bagaimana ? Melalui tokoh Mersault kita diajak memahami bahwa hidup itu absurd, tidak begitu baik, dan juga tidak begitu buruk, netral adanya. Kita tidak perlu terlalu terlena dengan masa lalu, juga tidak perlu mencemaskan masa yang akan datang. Tugas kita hanyalah melakukan hal-hal yang dilakukan di masa sekarang, sebagaimana adanya.

“Hari ini ibu meninggal. Atau kemarin, aku tidak tahu.”

Continue reading “L’Etranger (Orang Asing) Karya Albert Camus : Upaya Memahami Absurditas Kehidupan”

Novel Sitti Nurbaya, Berbicara Emansipasi Ditengah Kekakuan Tradisi

Tidak peduli telah berbagai macam produk budaya populer muncul setiap harinya, dari satu generasi ke generasi lain, namun novel Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) nampaknya tidak akan kalah dan akan terus abadi di tengah masyarakat Indonesia. Meskipun novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1920, tokoh fiktif Sitti Nurbaya tetap melekat bagi berbagai kalangan. Novel ini demikian besarnya hingga Pemerintah Sumatera Barat membangun jembatan wisata yang iconic disebut dengan Jembatan Siti Nurbaya serta Makam Siti Nurbaya di Gunung Padang.

Ngomong-ngomong tentang Sumatera Barat, novel ini memang mempunyai latar tempat di Kota Padang. Sangat mengasyikkan bagi saya (sebagai orang yang sejak lahir telah dibesarkan di Padang), ketika berbagai kawasan di Kota Padang disebutkan satu per satu dalam cerita. Seperti Gang Kampung Jawa Dalam (sekarang menjadi kawasan Pasar Raya), daerah Olo (tempat ibu saya dibesarkan), daerah Sawahan, hulu Limau Manis, kawasan Tabing, dan banyak lainnya. Mungkin ini pertama kalinya bagi saya membaca novel yang benar-benar menyebutkan berbagai lokasi di Kota Padang, sambil membayangkan rupa kota kelahiran saya itu ketika awal abad 20. Tidak lupa juga kawasan jembatan Siti Nurbaya saat ini, yakni Batang Harau dan juga Gunung Padang juga akan terus melekat ketika membaca novel ini. Bahkan saya pun mulai melihat Gunung Padang dengan pandangan yang berbeda. Meskipun fiktif, namun kisah kasih tak sampai antara Sitti Nurbaya dan Samsulbahri akan terus melekat ketika memandangi Gunung Padang tersebut. Dua tokoh yang disebut dengan Romeo dan Juliet-nya Indonesia.

Continue reading “Novel Sitti Nurbaya, Berbicara Emansipasi Ditengah Kekakuan Tradisi”

Novel Atheis : Tentang Iman dan Pentingnya Sebuah Pendirian

Dari judul novelnya saja, yaitu kata  “Atheis” sudah memberikan makna yang berbeda-beda bagi masing-masing orang. Munculnya orang-orang atheis,atau orang-orang yang tidak percaya tuhan menjadi momok ketakutan tersendiri bagi masyarakat kita. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia sudah dari dulu menganut berbagai agama maupun kepercayaan, yang berarti bangsa Indonesia percaya bahwa adanya suatu “zat” pencipta. Terlebih lagi agama mempunyai tempat istimewa pada negara kita ini, sehingga syarat menjadi warga negara Indonesia haruslah memeluk agama. Lalu muncul orang – orang yang menyebut bahwa Tuhan itu tidak ada, menyatakan bahwa manusia itu sendiri merupakan tuhan bagi dirinya. Pernyataan yang terdengar sangat ganjil bukan ?

 Jangan dilihat dari judulnya saja, novel ini tidak mengajak kita untuk menjadi Atheis. Justru  dari novel ini  -apabila kita membaca sampai akhir- kita akan semakin disadarkan untuk mantap dengan iman yang kita punya. Bagaimana caranya ? Hasan lah yang kemudian memberikan jawaban.

Continue reading “Novel Atheis : Tentang Iman dan Pentingnya Sebuah Pendirian”

Kerapuhan Annelies Mellema, Sang Bunga Penutup Abad

Karena tak pernah menyangka akan bisa berhadapan dengan seorang dewi secantik ini. Ia terdiam dan menatap aku dengan mata-kejoranya. Aku menyesal telah mengucapkannya. Ragu dan pelahan ia bertanya: “Siapa kau maksudkan dewi itu ?” “Kau,” desauku, juga ragu.

– Bumi Manusia

Annelies Mellema, sang bunga penutup abad dalam novel Bumi Manusia. Karakternya tidak secemerlang tokoh Minke yang selalu kritis terhadap feodalisme dan menjadikan ilmu sebagai sarana  kebebasan. Juga tidak secemerlang tokoh Nyai Ontosoroh, yang berani melawan hukum kolonial untuk mendapatkan haknya sebagai seorang ibu. Annelies merupakan wanita yang lemah dan tak berdaya. Lemah, karena tak berdaya akan melawan masa lalu yang terus membayangi. Karakternya selalu dikaitkan dengan kecantikan bagai seorang dewi, yang mana kita tahu nantinya bahwa sang dewi juga merupakan seorang manusia biasa. Sang dewi yang sangat rapuh dan tidak sempurna. Sang dewi yang bercita-cita menjadi pribumi.

Continue reading “Kerapuhan Annelies Mellema, Sang Bunga Penutup Abad”
Design a site like this with WordPress.com
Get started